Setiap balita memiliki perkembangan gerak motorik halus dan kasar yang berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh pembawaan anak dan terutama dari stimulasi yang didapatkan dari orang tua dan lingkungannya. Rangsangan atau stimulasi sejak dini adalah salah satu faktor eksternal yang sangat penting dalam menentukan kecerdasan anak. Berdasarkan studi pendahuluan terhadap 10 ibu yang mempunyai batita …
Angka kejadian gizi kurang didesa Sumbertangkil Kecamatan Tirtoyudo masih tinggi yaitu terdapat 30 balita gizi kurang (6,1%) dari total balita 491 orang. Jika gizi kurang tidak segera ditangani maka dikhawatirkan akan berkembang menjadi gizi buruk. Usaha positif yang dapat dilakukan untuk menanggulangi gizi kurang adalah dengan pemberian makanan tambahan lokal. Penelitian ini dilakukan untuk me…
Status gizi adalah Ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk rnvariabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu. rnStatus gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh rnkeseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrient. Dari hasil pendahuluan rnyang di lakukan pada tanggal 20 Mei 2012 di Puskesmas Sumbermanjing Wetan rndari 3.992 …
Krisis yang melanda perekonomian Indonesia menyebabkan sebagian masyarakat tidak mampu mengakses pangan dan pada akhirnya berpengaruh terhadap keadaan gizi terutama anak balita serta ibu hamil dan ibu menyusui (Depkes RI, 2003). Prevalensi gizi balita Desa Tajinan pada bulan Juli diketahui dari 447 balita , balita yang gizi baik 93,96%, gizi kurang 5,6%, gizi lebih 0,44%. Tujuan dari penelitian…
Dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat 2010, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas sumber daya manusia adalah tingkat kesehatan yang dapat dipengaruhi keadaan gizi. Berdasarkan studi pendahuluan di Posyandu Pepaya Kelurahan Bugul Kidul Kota Pasuruan pada bulan Februari 2007 diperoleh data bahwa jumla…
Menurut Departemen Kesehatan, (2004), pada tahun 2003 terdapat sekitar 27,5% (5 juta balita kurang gizi), 3,5 juta anak (19,2%) dalam tingkat gizi kurang dan 1,5 juta anak gizi buruk (8,3%). Menurut Dinkes, (2004), di Jawa Timur mempunyai prevalensi gizi buruk dan gizi kurang mencapai 22,92% yang digolongkan masih tinggi. Jumlah balita penderita gizi buruk di Kabupaten Jember, Jawa Timur terus…